Tampilan terbaik blog ini menggunakan

02 July 2007

Insiden bendera RMS tidak memengaruhi aktivitas kota Ambon

Minggu yang lalu, dari hari selasa sampai hari sabtu, kota Ambon terasa lebih ramai dari biasanya. Kendaraan bemotor terasa bertambah dua kali lipat memadati jalanan. Hal ini dikarenakan adanya acara Harganas XIV yang dipusatkan di sini.

Puncak acara pada hari jumat, yang dihadiri oleh Presiden RI dikotori oleh insiden bendera RMS oleh 30 penari Cakalele. Saya sebagai orang yang sudah cukup lama tinggal disini (kurang lebih satu tahun), kaget juga mendengar itu. Tapi anehnya, saya (dan hampir semua teman sekantor) mengetahui kejadian itu dari media elektronik. Padahal, jarak antara kantor kami dengan Lapangan Merdeka (tempat berlangsungnya acara) hanya sekitar 1 km. Setelah kejadian itupun, aktivitas di kota Ambon juga tidak terpengaruh sama sekali.

Jadi, provokasi para perusuh itu sama sekali tidak mempan. Satu pesan dari saya untuk para perusuh itu, kasihan deh loe.....

sumber peta:www.websitesrcg.com dengan sedikit modifikasi

5 comments:

almascatie said...

wew... baguslah kalo ga terpengaruh.. tapi apa emang bener? :) mungkin mas adis harus lebih teliti dikit lagi deh liat kondisi ambon setelah insiden ini :)
hmmm satu lagi om.. RMS bukan perusuh... kenapa kata "perusuh" "pe" menunjukkan orang yang membuat rusuh atau "pelaku" dan kata mbah wikipidia "Rusuh atau Kerusuhan atau huru-hara" terjadi kala sekelompok orang berkumpul bersama untuk melakukan tindak kekerasan, biasanya sebagai tindak balas terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil bla bla..bla... so mereka belom masuk perusuh dan mungkin masih banyak tuh tulisan2 tentang RMS yang membuktikan mereka bukan perusuh.. :) salah satunya mungkin disini http://basor.wordpress.com

Itu aja dulu dah oh iya oms met kenal.... ge blogwalking trus nemuin ni blog :)
trus di ambon tinggal sebelah mana? :) yang di wordpress...nya hanya sekedar sampingan kah? hehehhehe

mas adis said...

Komentar yang menarik. Tapi, saya mempunyai pendapat yang berbeda dengan anda (almascatie).
Pertama, saya yakin keadaan Ambon memang sama sekali tidak terpengaruh dengan insiden itu. Insiden tersebut hanya berakhir menjadi sebuah bahan pembicaraan yang menarik sambil minum kopi di sore hari. Itu saja!!(Maaf ya)
Kedua, kata "perusuh" memang pantas untuk mereka. Karena syarat-syarat "perusuh" (seperti yang anda kemukakan) ada pada mereka. Mereka terdiri dari sekelompok orang. Mereka juga bergerak dengan mengatasnamakan RMS, yang nota bene pernah membuat rusuh atau huru-hara di Ambon.
Terakhir, setelah saya membuka blog yang anda sarankan http://basor.wordpress.com , saya tidak menemukan tulisan yang membuktikan bahwa mereka bukan perusuh. Mungkin anda bisa memberitahu tulisan mana yang anda maksud.
Terima Kasih.

almascatie said...

hmmm saya ga menyalahkan istilah "perusuh" yang digunakan oleh Mas Adis, akan tetapi :
pertama sangat disayangkan adalah istilah “perusuh” ini menjadi sebuah justifikasi dalam menyelesaikan masalah RMS, kenapa?
Cara berpikir Pemerintah Indonesia sejak jaman dulu sampe sekarang ya seperti itu, RMS hanyalah sekelompok “perusuh” yang tidak usah dipikirkan.. mereka hanyalah riak2 kecil kekecewaan masyarakat terhadap Pemerintah pusat. dan hasilnya? penyelesaian yang digunakan adalah penyelesaian “perusuh” bukan penyelesaian yang menyentuh akar permasalahan... pengibaran2 bendera RMS setiap tanggal 25 april itu bukan terjadi hanya sekarang.. sejak jaman berdirinya sampai ditumpas [kata pemerintah] tetap berjalan dengan cara dan metode yang sama... satu Hal lagi yang paleng nyata adalah kaburnya Alex Manuputty yang nota bene merupakan pimpinan FKM organisasi RMS dimaluku, bahkan sudah Alex M sudah terbukti bersalah namun apa yang terjadi?? Karena Alex adalah ketua kelompok “perusuh” “maka biarin aja deh.. nyante aja ga usah diburu2" heheheh e bulshit...
Dan sangat memalukan adalah "mata Pemerintah" baru terbuka kalo RMS itu ada setelah kejadian kemaren. Kemanakah pemerintah selama 50 tahun ini dalam menangani perusuh2 itu???? hanya untuk menangani beberapa orang “perusuh” aja butuh waktu berpuluh2 tahun, memakan generasi ke generasi. sampe orang ambon sendiri pun dah bosan dengan janji2 yang dilontarkan untuk menumpas "perusuh2" .
Jadi marilah kita berpikir dengan bijak, jangan hanya menganggap mereka geromboloan "perusuh", tapi ga pernah bisa ditumpas, sedikit cerdaslah karena mereka sudah sedmikian cerdas menonjok Presiden Negara ini didepan semua anak buahnya yang hebat2...
Saya hanyalah orang kebetulan mencintai daerah ini, saya sudah sangat... sangat.. muak dengan pola pikir yang menafikkan sesuatu yang terbukti ada didepan mata kita.. kalo dengan pola pikir seperti itu bisa menyelesaikn masalah ini, saya sangat bangga akan tetapi kadang2 kita tidak pernah belajar dari sejarah dan kesalahan kita untuk tidak jatuh di lubang yang sama.. yang membuat masalah ini hanya berakhir sambil minum kopi dan menunggu 25 April berikutnya untuk bercerita tentang kaum perusuh yang mengibarkan "Benang Raja" dan teriakan "Mena Muria" yang masih terdengar di telinga2 kami.. rakyat maluku.
Terima Makasih

almascatie said...

oh iya aku lupa *balik lagi*
link di wordpress yang lengkap : http://basor.wordpress.com/2007/05/25/republik-maluku-selatan-dari-masa-ke-masa/

yang laen lagi di :
http://www.freelists.org/archives/ppi/04-2004/msg00452.html
makasih

Anonymous said...

Bagi kami, RMS tetap akan ADA selama bumi Maluku ADA!!!

Insiden pengibaran bendera RMS di depan SBY itu cuma maenan anak kecil yang lagi menari cakalele, ada pekerjaan besar yang lebih berarti dari insiden itu di depan kami, yaitu MENGMBALIKAN KEDAULATAN RMS, yang direbut paksa oleh RI cepat atau lambat kekuatan akar rumput akan muncul dan mendepak KELUAR semua orang NKRI dari bumi NusaIna, Maluku, MENA MURIA !!!